Tantangan Middle Mile Delivery di Indonesia

Diperbarui: 8 Jun


Secara garis besar, kegiatan distribusi logistik bisa dibagi jadi tiga tahap:


  1. First mile – Proses pemindahan pertama, biasanya dari tempat produksi ke gudang pusat.

  2. Middle mile – Proses distribusi produk dari pabrik/gudang pusat ke gudang daerah atau fulfillment center.

  3. Last mile – Proses pengiriman yang mengantarkan barang ke penerima akhir.


Berkat perkembangan pesat bisnis e-commerce dalam beberapa tahun terakhir, segmen pengiriman last mile mencuri perhatian banyak pihak di Indonesia. Nama-nama seperti J&T, Sicepat, dan Anteraja bersaing dengan pemain lama di industri logistik nusantara seperti Tiki dan JNE.


Bukan berarti inovasi hanya lahir pada pemain last mile saja. Di ranah pengiriman middle mile pun sudah ada beberapa startup yang mencoba menghadirkan inovasi, seperti Ritase, Trukita, Logisly, dan Transporta. Misi mereka adalah menghadirkan proses logistik yang efisien, sehingga bisa berdampak pada biaya logistik yang lebih rendah bagi para produsen.


Efisiensi logistik masih rendah


Tidak adanya standarisasi di industri logistik dalam negeri menjadi masalah utama yang dihadapi di segmen middle mile delivery yang saat ini mayoritas berbasis truk.


Beberapa hal yang selama ini menjadi dilema di lapangan adalah mulai dari tipe truk, cara booking hingga prosedur pengiriman.


Pada tahun 2020, pengiriman berbasis jalur darat diperkirakan berkontribusi hingga 55,2 persen aktivitas logistik di Indonesia. Ini menunjukkan seberapa besar ketergantungan Indonesia terhadap ekosistem truk.


Salah satu penyebab minimnya standardisasi di industri ini adalah hampir setiap perusahaan pengguna logistik berbasis truk di Indonesia punya prosedur dan proses bisnis berbeda. Sebagian besar proses tersebut dilakukan secara manual.


Saat ini sekitar 80 persen armada truk di Indonesia dioperasikan oleh pemain kecil yang belum tersentuh teknologi. Kegiatan load planning, tracking, hingga invoicing banyak yang masih dikelola secara manual.


Proses manual ini berimbas pada hampir 50 persen armada truk yang telah melakukan pengiriman barang kembali ke lokasi asal (backhaul) tanpa mengangkut muatan. Padahal idealnya, truk melakukan backhaul dengan kondisi muatan penuh atau setengah penuh. Bila tak mengangkut muatan, utilitas truk menjadi rendah.


Perusahaan modal ventura AC Venture merilis sebuah studi yang menyebut bahwa utilisasi truk di Indonesia hanya 50.000 km per tahun. Jauh di bawah Thailand yang memiliki utilisasi 150.000 km per tahun, atau kawasan Eropa dengan utilisasi truk 200.000 km per tahun.


Hal tersebut adalah indikasi bahwa memang ranah ini sedikit tertinggal dalam hal adopsi teknologi.


Bagaimana industrinya mau digital kalau semua stakeholder bekerja masih manual?

Dari fakta diatas, dapat disimpulkan bahwa digitalisasi segmen middle mile di Indonesia tak bisa dimulai dengan mengembangkan sistem solusi cargo matching, tapi membangun sebuah dasbor digital yang bisa digunakan para pelaku industrinya untuk mengelola berbagai informasi dan data historis dari proses logistik dan rantai pasok masing-masing.


Digitalisasi yang tepat dalam logistik memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi area mana yang boros ongkos, melalui optimalisasi perencanaan rute dan muatan, identifikasi waktu tunggu antara gudang dan pengiriman, dan metode-metode lainnya.


Apabila proses sudah makin ringkas, automasi mulai diterapkan, dan pengambilan keputusan berbasis data bisa dengan cermat dilakukan, maka proses logistik akan makin efisien, hingga akhirnya berdampak pada efisiensi ongkos logistik.


Tantangan justru ada di sisi pemilik kargo


Di ranah pengiriman middle mile yang biasanya memfasilitasi hubungan business-to-business (B2B), ada dua pihak yang terlibat:


  1. Shipper – Kalangan perusahaan pemilik kargo yang ingin mengirim/mendistribusikan produk-produk mereka.

  2. Transporter – Pemilik/pengemudi armada yang digunakan untuk melakukan pengiriman.


Dari kedua pihak ini, digitalisasi di sisi shipper jadi tantangan terberat. Mayoritas dari shipper merupakan perusahaan besar dengan sistem dan prosedur yang sudah berjalan selama puluhan tahun.


Cakupan industri mereka pun beragam, mulai dari FMCG, konstruksi, hingga minyak dan gas. Ini membuat masing-masing shipper punya spesifikasi kebutuhan pengiriman dan proses bisnis yang berbeda.


Bagi shipper, mengubah proses logistik artinya akan mengubah proses bisnis berbagai departemen yang dimilikinya. Tak jarang shipper memilih untuk mempertahankan proses yang lama ketimbang mengambil risiko inovasi. Apalagi, selama ini bisnisnya tetap bisa berjalan meskipun disebut kurang efisien.


Banyak pihak shipper justru memilih mengembangkan dasbor logistik digital sendiri ketimbang menggunakan layanan pihak ketiga.


Padahal membangun sistem sendiri tentu tak semudah itu. Upaya untuk menghemat biaya yang jadi tujuan shipper justru bisa menjadi blunder. Membangun sistem secara in-house tak hanya butuh biaya saat pembuatan sistem, namun juga biaya pengelolaan dan pengembangan.


Dukungan pemerintah dan tren belanja daring jadi pendorong


Upaya para pemain membenahi carut-marut logistik dalam negeri mendapat dukungan dari pemerintah. Pada Juni 2020, Pemerintah memperkenalkan program National Logistic Ecosystem (NLE), yang diharapkan mampu memangkas biaya logistik di Indonesia menjadi 17 persen dari produk domestik bruto.


Program tersebut tentu saja memberikan dampak positif bagi upaya digitalisasi industri logistik. Salah satu contohnya, semua kendaraan niaga kini harus dilengkapi global positioning system. Kalau saja ini sudah sepenuhnya terimplementasi, akan menjadi faktor pendorong yang signifikan.


Cek: GPS tracker dari McEasy yang telah terintegrasi dengan sistem Kemenhub (SPIONAM)

Dorongan juga muncul dari pasar Indonesia yang kini juga semakin terbiasa bertransaksi di e-commerce, dan akhirnya berdampak pada volume pengiriman yang dilayani pelaku logistik. Meski selama ini identik dengan last mile delivery, namun pemain middle mile delivery juga pasti terkena imbas positif dari meledaknya tren belanja online.


Nantinya pemain middle mile dan last mile delivery bisa saling kolaborasi. Middle mile akan mengurus pengiriman antar hub dan warehouse, sedangkan last mile yang mengantarkannya hingga ke rumah.