Supply Chain Automation: Sekarang dan Di Masa Depan


Supply chain automation melibatkan penggunaan teknologi baru dalam proses logistik untuk meningkatkan efisiensi dalam produksi, pergudangan, dan distribusi produk, di antara area lainnya.


Teknologi ini — bersama dengan yang lain yang belum menjadi arus utama, yaitu Industrial Internet of Things (IIoT) dan metaverse — adalah bagian dari Supply Chain 4.0. Konsep ini menggabungkan solusi digital otomatis untuk mempromosikan proses yang gesit, fleksibel, dan throughput tinggi di gudang dan pusat produksi.


Apa itu supply chain automation?

Supply chain automation terdiri dari penerapan teknologi baru untuk menerapkan logistik dan proses manufaktur yang lebih efisien dan lebih produktif. Empat teknologi utama yang digunakan untuk mengsupply chain automation adalah otomatisasi proses robot (RPA), kecerdasan buatan (AI), kembar digital, dan pembelajaran mesin (ML).


Teknologi baru memfasilitasi pengenalan solusi yang diarahkan untuk mencapai rantai pasokan digital dan terhubung. Di gudang dan pusat produksi dengan teknologi Industri 4.0, program manajemen dibebankan untuk menyinkronkan tugas operator dan mesin untuk mengoptimalkan operasi yang kompleks seperti pemenuhan pesanan, pengembalian produk, dan perakitan komponen di jalur perakitan.


Menurut studi Accenture, Supply Chain Workforce of the Future, mesin pintar menawarkan peluang unik untuk rantai pasokan: “Technologies like AI, digital twins, the Internet of Things (IoT), and the cloud allow companies to predict and monitor the impact of almost every action. The result? A new level of visibility and speed that fundamentally changes the way companies engineer, plan, source, manufacture, supply, service, and reclaim/recycle goods,” kata penulisnya.


Supply chain automation memerlukan penggabungan program manajemen tingkat lanjut untuk mendigitalkan proses. Ini juga melibatkan solusi produksi, pergudangan, dan transportasi otomatis yang dikelola oleh program perangkat lunak. Aplikasi ini menggunakan AI dan teknologi big data untuk meningkatkan produktivitas secara bertahap seperti penerimaan barang dan pemrosesan pesanan.


Laporan McKinsey Autonomous Supply Chain Planning for Consumer Goods Companies menunjukkan bagaimana menerapkan solusi otomatis yang mendorong perencanaan otonom dapat meningkatkan throughput dan memangkas biaya untuk perusahaan barang kemasan konsumen (CPG): “Autonomous supply chain planning can lead to an increase in revenue of up to 4 percent, a reduction in inventory of up to 20 percent, and a decrease in supply chain costs of up to 10 percent.”


Manfaat supply chain automation

Supply chain automation dikaitkan dengan penerapan solusi otomatis secara bertahap seperti produksi, pergudangan, dan pengiriman barang dengan tujuan menghilangkan pembengkakan biaya dalam operasi yang berbeda. Penerapan teknologi baru seperti AI, ML, dan IoT memfasilitasi:


  1. Aliran barang yang tidak terputus : di gudang atau pusat produksi, solusi otomatis memastikan pasokan produk yang berkelanjutan ke jalur perakitan atau area penyimpanan. ML memungkinkan penerapan robot mobil otonom di fasilitas logistik, yang bertugas mendistribusikan stok ke berbagai titik gudang tanpa harus mengikuti rute yang telah ditentukan.

  2. Penghapusan kesalahan : menginstal solusi otomatis berdasarkan teknologi seperti AI atau RPA mengurangi kemungkinan kesalahan dalam manajemen proses dan penanganan barang.

  3. Akurasi inventaris : supply chain automation memerlukan melengkapi fasilitas tidak hanya dengan solusi otomatis, tetapi juga dengan program digital yang dapat menjamin manajemen inventaris waktu nyata. Digitalisasi juga melibatkan sinkronisasi semua program yang berperan dalam rantai pasokan. Perangkat lunak manajemen gudang adalah alat yang ideal untuk memastikan keterlacakan produk.

  4. Fleksibilitas dalam menghadapi gangguan : penggunaan solusi digital dan sistem otomatis meningkatkan kemampuan gudang atau pusat produksi untuk bereaksi ketika menghadapi gangguan rantai pasokan yaitu yang disebabkan oleh pandemi virus corona. Teknologi ini bahkan dapat membantu memprediksi puncak permintaan yang tidak terduga.


Bisakah supply chain diotomatisasi sepenuhnya?

Sudah menjadi kenyataan di banyak perusahaan, supply chain automation adalah tren yang akan membentuk masa depan. Ini diilustrasikan dalam studi McKinsey Automation Has Reached Its Tipping Point for Omnichannel Warehouses, yang mengatakan: “Pasar otomasi gudang diperkirakan mencapai $51 miliar pada tahun 2030, CAGR [tingkat pertumbuhan tahunan gabungan] sebesar 23 persen.”


Teknologi baru dalam rantai pasokan tidak hanya akan meningkatkan throughput operasional di gudang dan pusat produksi, tetapi juga membuka jalan bagi produksi, penyimpanan, dan distribusi otonom. Menurut analisis Supply Chains Will Become Autonomous Faster Than You Expect dari Gartner, rantai pasokan akan berkembang dari otomatisasi ke otonomi selama dekade berikutnya: “Most CSCOs [chief supply chain officers] from global supply chain organizations agree that over the next 10 years the most advanced global supply chains will be leveraging hyperautomation — a combination of technologies including RPA, ML, and many others — to become more autonomous,” kata Pierfrancesco Manenti, VP Analis untuk tim Strategi Rantai Pasokan Gartner dan penulis laporan.


Namun demikian, jalan menuju otomatisasi penuh rantai pasokan bisa memakan waktu lama. Analisis Gartner membagi pengembangan supply chain automation menjadi tiga periode terpisah: otomatisasi (pada 2025), augmentasi (pada 2030), dan otonomi (setelah 2030). Perbedaan antara ketiga tahapan tersebut akan ditandai dengan tingkat konsolidasi teknologi dalam rantai pasok. Sementara periode otomatisasi akan dicirikan oleh IoT, RPA, dan augmented intelligence, 2030 akan menampilkan teknologi seperti ML, digital twins, dan AI yang bertanggung jawab. Mulai tahun 2030, otonomi rantai pasokan akan didukung oleh AI dan augmentasi manusia, yang mencakup teknologi yang meningkatkan kapasitas fisik dan mental melalui perubahan alami atau buatan dari tubuh manusia.


Jika tujuan akhir bagi perusahaan adalah memiliki rantai pasokan yang sepenuhnya otomatis, Gartner merekomendasikan bahwa transformasi teknologi rantai pasokan mereka harus menjadi prioritas utama: “Although it’ll be a 10-year journey, CSCOs are advised to start working on this transformation now. Technology is developing really fast, and there is no time to wait and see. CSCOs should continue pushing for more process automation through RPA, while combining it with ML to also automate more complex decision-making,” kata Manenti.


Supply chain automation: operasi yang gesit dan efisien


Supply chain automation mengacu pada penerapan teknologi seperti ML dan AI ke gudang melalui solusi otomatis dan program digital. Pengenalan robot otomatis menghilangkan kesalahan dalam manajemen proses dan penanganan barang, menghasilkan logistik dan operasi manufaktur yang lebih efektif.


Mengadopsi solusi otomatis dan program digital di seluruh rantai pasokan meningkatkan produktivitas gudang, meningkatkan visibilitas bagi pemangku kepentingan rantai pasokan, dan memastikan kontrol inventaris (real-time) terus-menerus selama operasi logistik.