Sektor Logistik di Era Society 5.0: Perubahan, Peluang, dan Tantangannya


Society 5.0 merupakan sebuah konsep dari pemerintah Jepang sebagai bentuk kekhawatiran terdegradasinya peran manusia dalam era Revolusi Industri 5.0.


Pemerintah Jepang memperkenalkan konsep Society 5.0 sebagai konsep yang mendefinisikan bahwa teknologi dan manusia akan hidup berdampingan dalam rangka meningkatkan kualitas taraf hidup manusia secara berkelanjutan.


Contoh penerapan Society 5.0 ini, menurut pemerintah Jepang, seperti pemanfaatan drone ke berbagai wilayah terutama untuk menjangkau daerah bencana dan pemanfaatan peralatan rumah tangga yang saling terkoneksi untuk meningkatkan kenyamanan di kehidupan sehari-hari.


Berbeda dengan Jepang, kondisi Indonesia sangatlah berbeda. Tidak hanya dari sisi ekonomi dan materi tetapi juga dari sisi sosial dan budaya. Sehingga proses Indonesia menuju Society 5.0 perlu dilakukan penyesuaian.


Berdasarkan data World Digital Competitive Ranking 2021, daya saing Indonesia dalam hal digital berada di urutan ke-56 dari 62 negara. Karena itu, untuk meningkatkan daya saing, tidak hanya masyarakat, namun sektor layanan publik seperti industri logistik pun perlu melek digital.


Industri logistik dan e-commerce adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Karena dalam proses bisnis e-commerce, ada dua hal yang esensial yang dicakup oleh logistik, yaitu sourcing dan delivery. Sourcing dibutuhkan untuk mendapatkan dan mengumpulkan barang-barang dari supplier atau merchant untuk diperdagangkan secara daring. Sementara delivery adalah proses mengirimkan barang kepada pelanggan agar memenuhi tenggat waktu.


Inilah momen kebangkitan industri logistik di Indonesia! Di era industri 4.0, sektor logistik Indonesia terus mempercantik diri untuk menyambut era Society 5.0 yang sudah di depan mata. Dampak dari digitalisasi rupanya membawa perubahan sektor logistik Indonesia ke arah yang lebih baik. Dalam peringkat Logistics Performance Index (LPI), penilaian logistik Indonesia menempati posisi 75 pada 2010. Sementara pada 2018 angkanya pelesat naik menjadi menjadi 48. Di ASEAN, Indonesia berada di posisi lima di belakang Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Posisi tersebut diprediksi akan terus membaik seiring dengan digitalisasi sektor logistik Indonesia di era digital.


Namun, sektor logistik sempat mengalami pasang surut pada awal era pandemi semester awal 2020 silam. Menurut data dari Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), semua perusahaan logistik di Indonesia mengalami 50 persen penurunan transaksi. Bahkan, dalam periode yang sama, penurunan volume logistik pun mencapai 60-70 persen karena saat itu pemerintah mengambil kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penularan COVID-19. Namun, di satu sisi, layanan logistik business-to-consumer (B2C) dan customer-to-customer (C2C) justru mengalami pertumbuhan meskipun skalanya kecil karena adanya peningkatan transaksi pengiriman makanan dan pasokan medis meskipun ada pembatasan sosial berskala besar.


Saat ini logistik Indonesia memasuki era baru akibat pandemi. Perusahaan logistik mau tak mau harus memutar otak untuk melakukan proses digitalisasi secara maksimal dan melakukan inovasi dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT), big data, cloud dan Artificial Intelligence (AI). Bahkan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Eric Thohir sangat mendukung digitalisasi rantai pasok logistik dalam rangka memulihkan ekonomi nasional pasca pandemi COVID-19 yang mewabah sejak Maret 2020. Terlebih lagi, masyarakat Indonesia tetap akan mempertahankan stay at home economy sebagai tren di masa mendatang.


Dikutip dari McKinsey (2016), proses digitalisasi rantai pasok memungkinkan perusahaan untuk memenuhi keinginan pelangganan, mengatasi kendala di sisi pasokan dan meningkatkan efisiensi dari proses pasokan itu sendiri. Artinya, jika rantai pasok sudah merambah digital maka proses logistik akan lebih cepat, efisien, fleksibel, pengiriman barang jadi lebih cepat dan akurat. Terlebih lagi McKinsey juga memprediksi jika transaksi e-commerce akan mencapai 1,6 miliar transaksi pada 2022.


Perubahan yang terjadi di sektor logistik pada era society 5.0


1. Pembaruan model pelayanan logistik


Salah satu yang dikemas menarik di era society 5.0 adalah penerapan end to end integrated supply chain management. Sistem ini memungkinkan perusahaan untuk memiliki rantai distribusi yang terintegrasi dimulai dari tahapan supplier, production, distribution, hingga customer. Sistem tersebut akan memudahkan perusahaan mulai dari proses administrasi pencatatan arus barang keluar masuk gudang, database yang telah terintegrasi hingga pemasaran.


Contoh dari aplikasi sistem ini adalah warehouse management system kepada konsumen B2B yang memungkinkan manajemen gudang secara real time, akurat dan teroptimasi. Khususnya dalam hal pencatatan dan mutasi barang.


Selain itu, teknologi saat ini memungkinkan satu perangkat terkoneksi dengan perangkat lainnya dengan sistem internet nirkabel sehingga pencatatan, pelacakan, serta pergerakan barang bisa dilakukan secara terintegrasi dan real time. Pada muaranya penyelenggaraan sistem first in first out (FIFO) akan berjalan sesuai kaidah teori yang berlaku karena terpantau dengan baik oleh sebuah sistem.


2. Migrasi kegiatan operasional dari Onsite menjadi Online


Untuk merubah bisnis onsite menjadi bisnis online terutama di bidang logistik pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan tenaga ahli dan peralatan yang memadai untuk melakukan migrasi bisnis tersebut. Namun, dengan melakukan investasi di bidang teknologi dan sumber daya yang memiliki kualifikasi proses transisi akan berjalan lancar dan pastinya akan menghemat biaya operasional jika sudah berjalan dengan baik.


Contoh dari aplikasi migrasi bisnis logistik adalah pembuatan aplikasi berbasis android dan ios pada bisnis logistik seperti JNE, JNT, Sicepat dan lain sebagainya. Lebih pesat lagi pada bisnis supply chain management saat ini sudah banyak bermunculan bisnis marketplace seperti lazada, tokopedia, shopee dan JD.ID yang mampu menyediakan berbagai kebutuhan hidup rumah tangga yang sudah mengakomodasi Internet of Things dan Machine Learning sehingga mampu mengoordinasi rantai pasokan dari awal hingga produk di terima customer.


3. Era baru keberlangsungan bisnis logistik di era society 5.0


Penerapan AI, IoT dan Machine Learning akan mengarah pada konsep bisnis yang mampu memiliki wawasan terkait kebutuhan konsumen sebelum permintaan itu ada. Saat ini pemanfaatan teknologi mampu meningkatkan performa dan pelayanan bisnis logistik ke arah yang lebih baik, lebih modern, lebih cepat, lebih tepercaya, dan lebih hemat biaya.


Peluang digitalisasi sektor logistik


Peluang digitalisasi sektor logistik akan berdampak pada meningkatnya transaksi perusahaan penyedia jasa logistik (3PL dan 4PL). Seperti JNE yang melaporkan sudah melewati target pengiriman barang 1 juta per hari. Sementara J&T Express mencatatkan 16,5 juta paket selama periode Festival Belanja Online 11.11. Fantastis!


Adanya digitalisasi juga memberikan cara baru kepada 3PL dan 4PL untuk berkolaborasi dalam hal outsourcing dengan perusahaan lain. Kolaborasi ini dapat meningkatkan nilai tambah kepada pelanggan dan meningkatkan profit perusahaan. Dengan digitalisasi, peluang untuk berkolaborasi tidak hanya dengan perusahaan dalam negeri saja tetapi juga luar negeri. Kolaborasi 3PL dan 4PL dengan perusahaan lain biasanya sering dilakukan dalam beberapa aspek seperti transportasi baik domestik maupun internasional, pergudangan, freight forwarding, teknologi dan informasi hingga management dan fulfillment.


Proses digitalisasi juga sangat memungkinkan membuat perusahaan penyedia jasa logistik menciptakan inovasi yang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memaksimalkan teknologi Internet of Things (IoT), big data, cloud dan Artificial Intelligence (AI). Seperti revolusi pengiriman dengan drone yang saat ini sedang digalakkan oleh Indonesia. Pengiriman dengan drone ini ke depannya dapat menjangkau wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dan rawan bencana. Dari hasil kajian Balitbanghub Kemenhub dengan ITB, pengiriman logistik menggunakan drone akan menghemat biaya logistik mencapai 30 persen. Selain itu, drone juga akan mempercepat waktu kirim dan dapat menjangkau seluruh wilayah tak sulit ditempuh via jalur darat.


Digitalisasi pun sudah mulai pelabuhan dengan diterapkannya sistem Inaportnet versi 2.0 dan Delivery Order Online di pelabuhan sejak 2019 lalu. Kementerian Perhubungan telah menerapkan sistem Inaportnet di 16 pelabuhan dan jumlahnya akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Dua layanan digital ini memberikan dampak luar biasa pada pelayanan di pelabuhan. Bayangkan, proses pelaporan yang sebelumnya membutuhkan waktu satu hari kini dapat dilakukan hanya dalam 10 menit. Selain itu, proses informasi kapal dan barang pun menjadi lebih transparan dan dapat dipantau secara real time.


Tantangan digitalisasi sektor logistik


Peluang digitalisasi logistik Indonesia tentu dapat diwujudkan jika para pelaku di sektor ini juga dapat menangani berbagai tantangan. Tantangan inilah yang harus menjadi perhatian utama banyak pihak agar upaya sektor logistik sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia tetap terjaga. Terlebih lagi, teknologi sangat berpengaruh pada perilaku konsumen yang dapat berubah secara drastis. Tentunya para pelaku logistik harus memperhatikan banyak hal agar terciptanya bisnis yang berkelanjutan.


Satu aspek yang menjadi tantangan utama dalam industri logistik Indonesia adalah biaya. Pada tahun 2019, Katadata pernah membuat sebuah laporan jika biaya logistik Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih cenderung tinggi, yaitu mencapai 24 persen. Sedangkan pada 2021, persentasenya berada di angka 23,5 persen. Meskipun mengalami penurunan, namun angka ini jauh lebih tinggi dibanding negara lainnya. Mari kita bandingkan dengan Malaysia yang memiliki perbandingan biaya logistik hanya 13 persen dari PDB.


Apa penyebab utama biaya logistik di Indonesia jauh lebih mahal dari negara tetangga?


Jawabannya adalah rumitnya birokrasi dalam proses mengajukan izin usaha. Mau tidak mau para pelaku usaha harus mengeluarkan biaya ekstra agar permasalahannya selesai. Para pengusaha logistik juga akan dihadapkan dengan mahalnya biaya investasi untuk menyediakan alat produksi, robotik, teknologi dan transportasi agar dapat menyesuaikan dengan era digital.


Biaya mahal juga dapat disebabkan karena pembangunan infrastruktur di Indonesia yang belum merata. Sebagai negara kepulauan dan terluas nomor tujuh di dunia, Indonesia masih dihadapkan dengan pembangunan yang masih timpang. Padahal infrastruktur merupakan pilar utama dalam efisiensi proses logistik. Proses pengiriman barang ke pelanggan akan lambat dan biaya logistik pun jauh lebih mahal.


Aspek berikutnya terkait tantangan digitalisasi logistik adalah manajemen sumber daya manusia (SDM) yang masih harus ditingkatkan.


Kita hidup di era Society 5.0, namun masih banyak beberapa perusahaan logistik yang masih bertahan dengan sistem lama dan konvensional karena SDM yang belum adaptif dengan teknologi. Bayangkan jika pelaku industri ini masih bermain dengan cara lama dalam manajemen logistik. Proses transportasi, inventory, warehousing dan pengemasan barang dilakukan secara manual. Selain memperlambat proses, tentunya hal ini juga berdampak pada membengkaknya biaya dan mengurangi nilai tambah untuk pelanggan. Rendahnya mutu SDM juga akan berdampak pada minimnya inovasi. Di tengah era persaingan digital yang sangat ketat, inovasi sangat dibutuhkan agar pelanggan setia pada produk dan layanan ditawarkan.


Peningkatan mutu SDM juga harus diperhatikan karena menurut Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), digitalisasi logistik akan berdampak para berkurangnya peran manusia. Jika perusahaan logistik sudah menerapkan teknologi komputer dan robotik, artinya kegiatan operasional harian tidak lagi membutuhkan tenaga manusia. Maka itu, SDM harus dapat menyesuaikan perubahan era dengan meningkatkan kompetensi agar dapat mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh robot. Contohnya belajar membuat aplikasi atau memelihara sistem agar proses logistik berjalan tanpa hambatan.


Sektor logistik Indonesia memiliki masa depan yang cerah karena didukung oleh banyak aspek positif dalam pertumbuhan digital. Perilaku konsumen yang dinamis, jumlah pengguna e-commerce yang tinggi di dunia serta semakin meningkatnya performa logistik Indonesia dalam index dunia. Namun, masih banyak pelaku industri ini dan SDM yang masih belum dapat mengejar dinamika teknologi yang semakin berkembang pesat. Jika hal ini masih dibiarkan, tentunya akan menghambat laju sektor logistik sebagai pilar penting dalam ekonomi Indonesia.