Reverse Logistics

Diperbarui: 25 Apr


Logistik mengelola pergerakan bahan baku dari pemasok hingga ke end user. Salah satu aktivitas logistik juga mengelola aliran balik bahan baku dari pelanggan ke pemasok asal, baik mencakup pemrosesan ulang maupun pembuangan. Di sisi lain, peraturan perundangan tentang lingkungan menuntut perusahaan untuk bertanggung jawab atas limbah mereka, sementara biaya pembuangan limbah semakin meningkat.


Saat ini banyak perusahaan berstandar dunia yang memberi perhatian lebih pada pengelolaan reverse logistics sebagai salah satu strategi meningkatkan keunggulan kompetitifnya. Perusahaan seperti Xerox, Hewlett-Packard, Eastman Kodak, dan lain-lain telah berhasil dalam menerapkan pengelolaan reverse logistics.


Keperihatinan atas isu lingkungan dan konsumsi sumber daya menyebabkan terciptanya inisiatif pembangunan berkelanjutan. Inisiatif ini bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tanpa harus menghabiskan sumber daya untuk generasi mendatang. Salah satu metode untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan adalah dengan meningkatkan jumlah bahan produk yang berasal dari pemulihan limbah dengan menggunakan reverse logistics.


Rogers dan Tibben-Lembke (1999) mendefinisikan reverse logistics sebagai proses perencanaan, pengimplementasian, dan pengendalian secara efisien atas aliran bahan baku, barang dalam proses, barang jadi, dan informasi yang terkait, mulai dari titik konsumsi ke titik asal dengan tujuan untuk menciptakan nilai atau pembuangan produk/barang secara tepat dengan biaya yang efektif.


Sementara, The Reverse Logistics Association (RLA), mendefinisikan reverse logistic dengan lebih sederhana, “Semua aktivitas yang terkait dengan produk/layanan sesudah point of sale”. Reverse logistics mengacu pada semua prosedur terkait untuk pengembalian produk, perbaikan, pemeliharaan, daur ulang dan pembongkaran untuk produk dan bahan.


Apa Manfaat dan Keuntungan Reverse Logistics?


  1. Perusahaan yang menerapkan reverse logistics mampu meningkatkan layanan pelanggan dan tingkat respon ke pelanggan, mengurangi dampak lingkungan dengan mengurangi limbah dan meningkatkan tanggung jawab sosial perusahaan secara keseluruhan.

  2. Selain itu, reverse logistik memungkinkan produsen untuk menerima produk return dari konsumen atau mengirim kembali barang yang tidak terjual ke pabrik.

  3. Reverse logistics juga dapat meningkatkan siklus hidup suatu produk, meningkatkan kecepatan produksi, mengurangi biaya (transportasi, administrasi, dan pemeliharaan, perbaikan dan penggantian).

  4. Lalu, ada nilai lebih yang dapat diekstraksi dari barang bekas/barang return karena reverse logistik mampu meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan dengan lebih memperhatikan barang yang rusak, dan perbaikannya.


Dengan melihat manfaat dan keuntungannya sekarang kita dapat mengerti bahwa reverse logistics memainkan peranan penting dalam pertumbuhan perusahaan, memberikan banyak keuntungan finansial, lingkungan dan sosial.


Perbedaan Reverse Logistics dengan Forward Logistics

Secara singkat, forward logistics atau logistik reguler adalah proses pengiriman produk dari penjual ke pelanggan. Sedangkan reverse logistics adalah proses pengiriman produk dari pelanggan ke penjual.


Dalam reverse logistics, produk dikirimkan kembali ke pabrik atau penjual untuk diperbaiki, ditarik kembali atau dikembalikan.


Prosedur reverse logistics lebih rumit dan sulit karena produk dikirim dari beberapa titik pengiriman yang berbeda ke satu titik tujuan. Sedangkan dalam logistik reguler, cukup mengirim produk dari satu titik pengiriman ke beberapa titik tujuan yang berbeda.


Kemasan produk dalam reverse logistic sering mengalami kerusakan karena pelanggan yang tidak memiliki SOP memperlakukan produk. Sedangkan dalam logistik reguler, kemasan produk sesuai dengan standar pengiriman dari penjual.


Strategi manajemen persediaan reverse logistics kurang berfungsi dengan baik. Kecepatan pengiriman tidak begitu diperhatikan pada reverse logistics. Tapi dalam logistik regular, kecepatan adalah salah satu prioritas.


Mengapa Banyak Perusahaan yang Mengabaikan Reverse Logistics?


  1. Reverse logistics hanya dipandang sebagai beban untuk sebuah organisasi. Padahal, pengelolaan reverse logistics yang efektif seringkali memberikan keuntungan bagi perusahaan melalui penggunaan kembali dan daur ulang yang dapat mengurangi biaya.

  2. Biaya reverse atas produk dan bahan seringkali kurang terlihat jelas, oleh karena itu tidak dipandang sebagai prioritas dalam program pengurangan biaya.

  3. Sulit untuk meramalkan arus balik dari produk dan sulit untuk mengetahui secara akurat jenis produk apa dan berapa banyak produk yang akan dikembalikan oleh pelanggan.

  4. Banyak perusahaan hanya memperhatikan pengembangan produk baru untuk menggantikan produk yang tidak lagi memenuhi kebutuhan fungsional, namun tidak memperhatikan berapa produk yang return, sehingga apabila dikelola dengan baik dapat memberikan keuntungan besar.

  5. Banyak perusahaan tidak memiliki keahlian, tenaga kerja atau infrastruktur untuk memproses pengembalian dan memperluas pengelolaan sistem operasi produk-produk return. Perlu dipertimbangkan untuk outsourcing ke perusahaan 3PL yang kompeten dalam mengelola reverse logistics.

  6. Reverse logistics sering dilihat sebagai lebih kompleks dan kurang terstruktur daripada rantai pasokan normal karena variasi dalam kualitas produk dan tingkat kerusakan. Namun demikian, hal ini tidak berarti perusahaan tidak harus mencoba dan mengatasi tantangan dalam pengelolaan reverse logistics.

Peran Perusahaan 3PL dalam Reverse Logistics

Reverse logistics dapat dikelola secara inhouse atau menyerahkan pengelolaannya ke perusahaan 3PL. Beberapa perusahaan 3PL dapat mendesain jaringan reverse logistics untuk mengelola pengembalian produk dari titik pengiriman sampai ke proses pendistribusian ulang. Ini memberikan peluang bagus bagi perusahaan logistik (3PL).


Layanan Reverse Logistic dari Perusahaan 3PL

  1. Penjemputan dan pengumpulan product reverse, produk-produk reverse dapat dikumpulkan dari pelanggan dengan menyediakan layanan drop-in di lokasi-lokasi strategis, seperti kawasan perkantoran, perumahan, industri, pasar, sekolah, dan pusat-pusat keramaian, tergantung karakteristik jenis produk reverse dan segmen penggunanya. Untuk produk reverse kategori consumer goods, penempatan drop-in untuk product reverse di kawasan perumahan atau tempat publik sangat tepat. Sementara untuk produk industri, layanan penjemputan lebih tepat dilakukan.

  2. Pengecekan barang masuk, pengecekan barang masuk yang diperoleh dari drop-in untuk reverse product atau layanan penjemputan product reverse perlu dilakukan pengecekan dan pemilahan. Untuk produk-produk reverse kategori barang berbahaya (dangerous goods) perlu mendapatkan penanganan yang tepat.

  3. Distribusi ke pusat perbaikan atau daur ulang, setelah produk-produk dipilah, selanjutnya produk-produk reverse dapat dilakukan perbaikan untuk produk yang memerlukan perbaikan, dan beberapa produk reverse dilakukan daur ulang.

  4. Pengemasan kembali dan pemasangan label, setelah product reverse diperbaiki, dilakukan pengemasan kembali dan pemasangan label untuk diproses lebih lanjut, baik disimpan atau diangkut dengan moda transportasi untuk didistribusikan ke lokasi tertentu.

  5. Pelacakan pengiriman, beberapa perusahaan 3PL menyediakan layanan pelacakan pengiriman untuk proses penjemputan, pengiriman ke reparasi, dan distribusi produk reverse.

  6. Reparasi, layanan reparasi produk reverse juga dapat dilakukan perusahaan 3PL bekerja sama dengan layanan reparasi sesuai dengan jenis produknya. Layanan reparasi ini akan memperpendek proses penanganan product reverse dan mempercepat penempatan kembali product reverse ke pasar.


Kesimpulan

Pengelolaan reverse logistics yang efektif, tidak hanya dapat mengurangi limbah yang akan berdampak pada lingkungan, tetapi pengelolaan reverse logistics yang efektif dapat menurunkan biaya operasional, selain itu dapat berdampak juga pada peningkatan profitabilitas perusahaan dan bahkan dapat meningkatkan citra publik terhadap perusahaan.