Kenaikan Bahan Bakar: Dampak dan Solusinya Bagi Operasional Logistik dan Transportasi



Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi berdampak langsung pada biaya transportasi masyarakat. Selain itu, hal itu berdampak pula pada harga-harga kebutuhan pokok.


Dampak Kenaikan Harga BBM terhadap Perusahaan Logistik dan Transportasi

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) telah mengumumkan penetapan harga baru trucking rate naik 25% untuk tarif trucking kontainer. Sementara itu, APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) meyakini bahwa kenaikan BBM ini masih akan tetap bisa terkendali untuk tidak serta-merta menaikan harga jual barang di pasar.


Fluktuasi harga yang terjadi tidak dapat disangkal akan berdampak pada perusahaan logistik di Indonesia, karena pengeluaran untuk BBM adalah “biaya belanja langsung untuk operasional,” seperti kata seorang eksekutif logistik senior dari sebuah perusahaan teknologi konsumer global.


CEO Paxel, perusahaan logistik asal Indonesia, Zaldy Masita mengatakan bahwa peningkatan harga BBM bisa mengurangi daya beli masyarakat. Ini akan memengaruhi volume perdagangan yang dilakukan secara online maupun offline.


Sementara itu, J&T Express mengatakan sejauh ini kenaikan harga BBM tidak menjadi alasan bagi perusahaan untuk menaikkan tarif layanannya. Tapi, operator logistik tingkat regional ini mengakui dampak kenaikan harga BBM terhadap sebagian kecil biaya operasionalnya.


Dalam konteks kenaikan BBM, transportasi terbagi menjadi 3 komponen besar:


1. Middle mile delivery - transportasi darat (trucking)

Transportasi darat B2B dari pabrik ke pabrik dan pabrik ke retail atau ke gudang atau antar gudang. Biasanya middle mile delivery ini menggunakan beberapa tipe truck:

  • Light truck - kecil (Blind van atau mobil-mobil van kecil hingga roda 4 CDE)

  • Mild truck - sedang (biasa roda 6 misal CDD atau Fuso)

  • Container truck - besar (roda lebih dari 6 seperti Kontainer atau wingbox).

Dari ketiga tipe truck di atas, biaya produksi direct cost, spare part, ban dan UMR (Upah Minimum Regional) pada truck kecil akan terdampak kenaikan sekitar 15% dimana biaya produksi transportasi komponennya sebesar 65% dari total biaya, truk sedang terdampak sekitar 17% dan truk besar terdampak 20%.


Namun ada beberapa komponen lain yang juga akan meningkat seperti biaya inflasi dan UMR yang mungkin angkanya akan sedikit meningkat setelah kenaikan BBM ini. Dalam posisi dan kondisi seperti saat ini dampak kenaikan BBM akan menciptakan peluang pasar bebas dalam penentuan harga transportasi trucking rate ini.


Sehingga prediksi kenaikan yang akan diajukan oleh para transporter dari range 15 - 25% nantinya akan bergantung pada negosiasi Trading term, kontrak dan SLA yang disepakati bersama. Kemungkinan yang akan terkorbankan adalah Safety and Quality compliance seperti biasanya.


2. First mile dan last mile delivery

Seharusnya dampak kenaikan BBM tidak akan melebihi 15% kenaikan harga pengiriman. Hal ini karena 3PL akan melakukan optimasi dan efisiensi proses operasional mereka mulai dari memperbanyak volume pickup di satu titik baik itu konter atau kolek dalam jumlah besar di satu lokasi gudang.


Dari sisi last mile akan mengoptimalkan multiple drop points dengan memadatkan densiti zona area coverage. Salah satu komponen last mile industry yang menggunakan kargo udara adalah biaya SMU (biaya konsolidasi kargo udara). Dan ini tidak terlalu terkena dampak dari BBM dan last mile ke door dengan menggunakan motorist. Dampak BBM masih bisa dikendalikan dengan cara multidrop dan volume dioptimalisasikan.



3. Transportasi Inter Island

Pengaruhnya akan lebih tinggi dibandingkan land transport trucking juka THC (Terminal Handling Charges) di pelabuhan meningkat biayanya - point 1 plus plus. Perubahan dampak dari kenaikan BBM ini menjadi tantangan untuk para pemimpin manajemen operasional baik diperusahaan transportasi, logistik dan juga di perusahaan pabrikan dan brand owner sebagai pengguna.


Tantangan paling menantang adalah khusus bagi perusahaan-perusahaan pabrikan atau brand owner yang komponen biaya distribusinya memiliki porsi yang besar. Seperti perusahaan air minum, perusahaan bahan bangunan dan material, perusahaan mineral, perusahan coldchain dan fast moving delivery makanan dan komoditi groseris.


Apa yang Bisa Dilakukan Oleh Pengusaha?

Menyikapi kebijakan naiknya harga BBM, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh pengusaha.


1. Menaikkan Tarif atau Harga Produk

Harga BBM naik, mau tidak mau pengusaha juga perlu menaikkan tarif atau harga jual produknya secara perlahan.


Sebab, kenaikan harga BBM akan sangat berdampak pada biaya produksi dan operasional.

Utamanya bagi sektor usaha yang sangat mengandalkan transportasi, seperti logistik dan usaha travel. Para pengusaha tentu sangat memahami kenaikan harga BBM sebagai buntut dari naiknya harga minyak dunia.


Jadi, sangat penting menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga kelangsungan usaha. Kenaikan harga produk dan layanan tentunya perlu dilakukan untuk menghindari kerugian.

Meskipun butuh penyesuaian, pada akhirnya masyarakat tentu akan terbiasa.


Sebab, masyarakat pun kini sedang dalam proses penyesuaian kembali pola konsumsi dan pengeluaran rumah tangganya. Sedangkan kebutuhan dasar akan layanan transportasi dan logistik tak bisa dihindari.


2. Mengurangi Kapasitas Produksi

Kenaikan biaya operasional sebenarnya bisa diakali dengan mengurangi kapasitas produksi. Dengan begitu, biaya produksi juga akan berkurang. Utamanya bagi industri yang bergantung pada mobilisasi dan angkutan barang.


Akan tetapi, mengurangi kapasitas produksi juga akan berdampak pada penurunan omzet. Maka dari itu, cara ini lebih cocok digunakan sementara waktu jika memang sebuah bisnis sangat perlu menekan biaya operasional.


3. Menambah Kapasitas Angkutan

Bagi perusahaan jasa transportasi seperti agen perjalanan, menambah kapasitas angkutan bisa jadi solusi yang efektif.


Dalam menyikapi harga BBM naik, tak melulu harus menaikkan tarif layanan. Bagi agen perjalanan, meningkatkan kapasitas penumpang bisa jadi cara untuk menutupi penurunan omzet.


Misalnya, jika kapasitas normal sebuah mini bus sebanyak 15 penumpang, agen travel bisa meningkatkan kapasitasnya dengan beberapa penyesuaian.


Semakin banyak penumpang yang bisa diangkut dalam sekali perjalanan, semakin besar keuntungan yang didapat.


4. Tingkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar

Era teknologi saat ini sangat mungkin membantu pengusaha meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar armada transportasi dan logistiknya. Beberapa contoh teknologi yang dapat digunakan seperti:


Itulah dampak kenaikan bahan bakar bagi bisnis transportasi dan logistik. Bagaimana dengan bisnis Anda? apakah sudah mulai mempersiapkan strategi baru atas dampak kenaikan BBM ini? Atau kenaikan 10 - 25% dari biaya distribusi bukanlah masalah untuk bisnis Anda?