top of page

Bagaimana Dampak Resesi Terhadap Industri Software as a Service (SaaS)?

Akankah perusahaan SaaS juga mengalami keterpurukan ekonomi karena faktor resesi? Atau mampu bertahan di tengah ancaman resesi?

 

Isu resesi 2023 telah menakut-nakuti semua pelaku bisnis di berbagai negara. Bayangkan jika resesi ini terjadi, perekonomian dunia jelas melemah. Bahkan yang paling mengerikan bagi pelaku bisnis, perusahaan mereka bisa jatuh bangkrut karena turunnya pendapatan dan mengancam arus kas mereka.


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, berpendapat perihal resesi ekonomi 2023 mungkin terjadi. Keterangan serupa juga diperkuat oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang mengingatkan bahwa Indonesia cepat atau lambat akan merasakan dampak resesi yang melanda secara merata. Hal ini bisa dilihat dari kemerosotan ekspor yang hanya mencapai 23% di kuartal I 2022.



Keadaan demikian jelas memberi kecemasan bagi para pelaku bisnis. Apalagi di era digital sekarang, teknologi berperan penting dalam efektivitas dan efisiensi perusahaan. Salah satunya dengan maraknya pemanfaatan Software as a Service (SaaS) untuk mendukung segala kebutuhan industri di berbagai bidang dari mulai skala kecil hingga besar. Karenanya, banyak industri di luar sana yang menggunakan SaaS.


SaaS memberikan banyak manfaat bagi jalannya suatu bisnis, salah satunya dapat meningkatkan efisiensi, sehingga tidak sedikit perusahaan beralih menggunakan jenis software ini. Selain menciptakan efisiensi, SaaS juga meminimalisir biaya operasional perusahaan dan mampu menjaga informasi perusahaan. Perlu diketahui bahwa risiko cyber security SaaS berbeda dengan risiko software konvensional. Tanpa manajemen kontrol keamanan yang memadai, data yang disimpan secara in-house cenderung lebih berisiko, sedangkan provider SaaS menyiasati security issue dengan memanfaatkan cloud infrastructure canggih yang bisa memonitor segala informasi. Beberapa contoh perusahaan yang bergerak di bidang SaaS seperti Canva, Google Drive, Sirclo, dan sebagainya.


Karena semakin banyak indikator ekonomi yang memberikan peringatan tentang resesi, wajar jika perusahaan yang bergerak di bidang SaaS merasa tidak nyaman akan ancaman itu. Apalagi belakangan ini, Menteri Keuangan, Sri Mulyani pun mengatakan penurunan proyeksi ekonomi terjadi di semua negara baik negara maju maupun negara berkembang, seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, China, dan Zona Eropa yang diprediksi menjadi paling sulit terhindar dari resesi.



Akankah perusahaan SaaS juga mengalami keterpurukan ekonomi karena faktor resesi? Atau mampu bertahan di tengah ancaman resesi?


Perusahaan teknologi Business to Business (B2B) dan perusahaan SaaS nyatanya memiliki keunggulan dibandingkan rekan mereka yang berhadapan dengan konsumen. Alasannya adalah SaaS merupakan titik solusi karena menyediakan inti fungsionalitas.


CEO Vista Equity Partners, Robert Smith, ketika di masa-masa awal vertikal SaaS, Smith lebih memilih kontrak perangkat lunak daripada hutang hak gadai pertama, karena sebuah perusahaan tidak akan membayar bunga atas hak gadai pertama mereka sampai setelah mereka membayar pemeliharaan perangkat lunak atau biaya berlangganan. Mengapa? Karena pelanggan itu “tidak dapat menjalankan bisnisnya tanpa perangkat lunak kami.” Ini adalah wawasan sederhana yang membuat Smith menjadi miliarder dan mengubah Vista menjadi perangkat lunak yang besar.



Dilihat dengan cara ini, produk SaaS vertikal yang dibangun dengan baik adalah pengeluaran bisnis yang sama opsionalnya dengan pajak, sewa, dan utilitas. Fakta bahwa produk SaaS vertikal sangat penting bagi pelanggan mereka hanyalah sebagian dari keuntungan di masa resesi. Sejauh perangkat lunak mereka membantu pelanggan terutama mengoperasikan bisnis mereka dengan lebih efisien, mereka akan terus melihat pertumbuhan pendapatan relatif kuat.


Hal serupa juga terjadi saat resesi 2008 pada Athenahealth, penyedia perangkat lunak untuk industri perawatan kesehatan yang menjadi satu-satunya perusahaan SaaS yang berkembang baik pada saat itu. Tingkat pertumbuhan kuartalnya rata-rata sebelum crash adalah 44%. Ini turun menjadi 11% dalam 3 kuartal setelah krisis, mewakili penurunan tingkat pertumbuhan sebesar 74%. Athenahealth menggunakan EBITDA sebagai proxy untuk arus kas dan melihat evolusi "aturan 40" selama periode ini yang menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan perusahaan perangkat lunak dan margin FCF harus digabungkan menjadi 40% atau lebih. Kabar baiknya, Athenahealth selamat dari krisis, yang tentunya tidak berlaku untuk industri lain selama periode ini. Tingkat pemulihan juga relatif cepat daripada industri lain karena pertumbuhan meningkat pada kuartal 4 pada 2009.


Satu hal yang perlu diketahui bahwa perusahaan SaaS lebih cenderung memiliki arus kas positif dan margin tinggi yang disukai investor dalam saham yang sedang tumbuh. Biaya akuisisi pelanggan mereka rendah dan memiliki banyak peluang untuk memperluas pasar mereka yang dapat dialamatkan bahkan jika pertumbuhan pelanggan mereka melambat.


Keuntungan terakhir dari perusahaan SaaS vertikal adalah kemampuan mereka untuk berbuat lebih banyak dengan modal lebih sedikit karena terbatasnya pengeluaran penjualan dan pemasaran tanpa secara signifikan membatasi kemampuan mereka untuk menjangkau pelanggan. Lebih penting lagi, ini memberi mereka titik kesamaan dengan pelanggan mereka yang juga akan merasakan efek resesi.



SaaS vertikal dapat berkembang di saat baik dan buruk dengan dukungan dan strategi yang tepat. Dalam waktu dekat, pendiri SaaS vertikal harus kuat terhadap tantangan dan tanpa henti fokus pada eksekusi.


Sehingga dapat disimpulkan bahwa ancaman resesi 2023 mendatang tidak begitu berdampak terhadap industri SaaS. Namun, jika resesi cukup buruk, pelanggan mereka akan kecewa. Cara terbaik bagi pendiri SaaS adalah bagaimana menjadikan produk mereka sangat diperlukan bagi pelanggan dengan menunjukkan bagaimana produk itu dapat mendorong nilai bagi bisnis mereka.

bottom of page