Ancaman Resesi 2023 Terhadap Proses Supply Chain

Dampak resesi dan upaya kurangi ancaman resesi untuk mengurangi gesekan atau ancaman resesi agar proses supply chain di Indonesia tetap berjalan optimal

 

Ancaman dan ketakutan akan resesi ekonomi global pada 2023 mendatang sudah mulai mengintai dan diwasapadai oleh para pelaku bisnis logistik di berbagai negara termasuk Indonesia. Apalagi bisnis logistik atau supply chain berhubungan langsung dengan arus lalu lintas negara. Berbagai spekulasi ancaman resesi sudah mulai diwanti-wanti.


Apa itu resesi?

Resesi merupakan kondisi perekonomian suatu negara memburuk yang ditandai dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di titik negatif, kelambatan perdagangan, pengangguran meningkat, minimnya daya beli masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. Lantas, jika resesi 2023 terjadi, bagaimana dampaknya pada proses supply chain nanti?




Dampak Resesi Terhadap Supply Chain



Isu ancaman resesi 2023 terus mengintai dan membuat pebisnis di berbagai negara takut akan melemahnya sektor ekonomi mereka. Proses supply chain, misalnya, menjadi sorotan utama karena berkaitan dengan arus lalu lintas negara.


Bagaimana tidak, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memprediksi resesi tersebut akan mengusik bisnis sektor logistik dan menghambat laju perekonomian pada 2023. “Ini akan berpengaruh pada turunnya arus distribusi barang dan jasa” tuturnya secara virtual pada Bisnis Indonesia Logistics Forum & Awards 2022, Selasa (8/11/2022).


Kondisi yang cukup nyata terjadi adalah menurunnya permintaan bahan baku industri. Ini terjadi karena penurunan harga komoditas ekspor unggulan yang bisa menyebabkan tekanan pada sisi ekspor itu sendiri.



Dampak resesi serupa juga sudah dirasakan oleh para pelaku supply chain. “Pelaku logistik di Indonesia juga mulai merasakan sinyal itu lantaran kegiatan perdagangan dunia yang mulai lesu dan biaya kontainer yang kembali pada titik semula. Apalagi, penurunan aktivitas ekspor-impor sudah mulai dirasakan sejak dua bulan lalu”, ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, Senin (17/10/2022).


Pada hal yang sama, Setijadi, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), mengatakan, ketergantungan ekspor dan impor dengan sejumlah negara harus dipertimbangkan sebagai antisipasi atas risiko resesi di beberapa negara mitra, terutama Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2022 nilai ekspor non-migas Indonesia ke Tiongkok sebesar US$ 6,16 miliar atau 26,23% dari total ekspor non-migas. Sementara impor dari Tiongkok sebesar US$ 5,69 miliar atau 34,74% dari total impor non-migas Indonesia. “Ketergantungan ekspor-impor itu harus diwaspadai jika melihat pertumbuhan ekonomi di Tiongkok beberapa waktu terakhir.


Pada Kuartal II 2022 ekonomi Tiongkok tumbuh 0,4% atau terkontraksi 4,4% dibanding kuartal sebelumnya”, ucap Setijadi. Sehingga, proses supply chain Indonesia dengan Tiongkok harus diminimalisir mengingat kondisi ekonomi Tiongkok mengalami kontraksi, yang mana PDB riil dan produksi industri menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Ini merupakan pertanda resesi karena PDB rill turun dalam dua kuartal berturut-turut.


Ancaman resesi yang mungkin berdampak pada supply chain di Indonesia makin diperkuat oleh keterangan Sri Mulyani, Menteri Keuangan, yang sudah mengingatkan resesi tahun depan akan terjadi di negara-negara maju dunia, seperti Eropa, Tiongkok, dan AS yang mana sudah terjadi pelambatan aktivitas manufaktur global yang semakin dalam pada Agustus 2022. Pada keterangannya itu, ekspansi PMI Manufaktur global terus melambat ke 50,3 di bulan Agustus, atau terendah dalam 26 bulan terakhir. Sedangkan PMI Manufaktur Indonesia cenderung melambat ke 51,7 di bulan Agustus 2022.


Upaya Kurangi Ancaman Resesi Pada Proses Supply Chain

Resesi 2023 semakin mendekat dan membuat panik seluruh pelaku logistik. Entah resesi itu benar terjadi atau tidak, namun diperlukan upaya-upaya untuk mengurangi gesekan atau ancaman resesi agar proses supply chain di Indonesia tetap berjalan optimal dan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi.


Menhub, Setijadi, menyatakan sektor logistik berpotensi berperan penting dalam mengurangi dampak resesi itu terutama berkaitan dengan pelemahan daya beli masyarakat. Efisiensi biaya logistik dapat mengurangi potensi kenaikan harga produk dan komoditas yang akan dibeli masyarakat.


Salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam menghadapi ancaman resesi adalah orientasi dan penguatan logistik domestik guna meminimalisir ketergantungan terhadap rantai pasok global.


Menurutnya, pebisnis logistik harus lebih banyak memperkuat layanan untuk permintaan dan pasokan di dalam negeri. Selain itu peningkatan efisiensi logistik perlu difokuskan pada proses transportasi karena biaya transportasi berkontribusi sekitar 70% dari biaya logistik total. Komponen biaya logistik lainnya pada proses pergudangan yang lebih terkendali dalam lingkup internal perusahaan.


Upaya peningkatan efisiensi transportasi dapat dilakukan pada tiga aspek, yaitu people (kompetensi personil), process, dan technology.


Kompetensi personil tidak hanya mencakup kompetensi teknis untuk aktivitas operasional harian, tetapi juga kemampuan manajerial dan strategis, seperti mengidentifikasi dan mengeksekusi peluang bisnis.


Efisiensi juga sangat tergantung dari proses yang harus dipahami secara end-to-end dan komprehensif. Proses konsolidasi misalnya, sering tidak dipahami sehingga tidak menjadi peluang peningkatan efisiensi itu.


Selanjutnya, penggunaan teknologi, termasuk teknologi informasi sangat berperan penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional transportasi.



Di sisi lain, Indonesia yang memiliki bentang alam yang didominasi perairan, sektor transportasi laut juga harus dikembangkan guna mengoptimalkan proses supply chain management. BPS mencatat bahwa jumlah barang yang diangkut dengan moda transportasi rel naik sebesar 14,16% menjadi 13,47 ton, sedangkan jumlah barang yang diangkut dengan moda transportasi laut turun 0,59% atau menjadi 78,06 juta ton dibanding periode yang sama tahun 2021. Ini berarti volume angkutan barang dengan moda transportasi rel dan moda transportasi laut mengalami penurunan, sementara sektor logistik menunjukkan pertumbuhan signifikan. Kondisi ini terjadi karena pengangkutan barang pada periode tersebut semakin didominasi oleh moda transportasi jalan seperti yang terjadi selama ini.


Karenanya, Setijadi mengungkap, dalam jangka panjang, dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia, harus dikembangkan sistem transportasi multimoda dengan transportasi laut sebagai backbone-nya yang terintegrasi dengan transportasi hinterland setiap wilayah. Dengan begitu proses pengembangan transportasi laut sebagai backbone perlu dikembangkan untuk mengoptimalkan proses supply chain di Indonesia dan menjadi pendorong bagi penggunaan semua moda transportasi secara proporsional.